Inilah Perbedaan Pinjaman Online Biasa dengan Pinjaman Online Syariah

Saat ini sudah banyak sekali beredar pinjaman online di kalangan masyarakat. Pinjaman online merupakan sebuah fasilitas pinjaman dana yang disediakan oleh lembaga penyedia keuangan yang dikelola secara online. 

Biasanya penyedia pinjaman ini dikenal dengan sebutan fintech (financial technology). Pinjaman ini juga biasanya tidak membutuhkan jaminan dan dana nya keluar lebih cepat. Hal ini bisa menjadi salah satu solusi untuk masyarakat yang membutuhkan dana pinjaman yang cepat. 

Terdapat dua jenis pinjaman yakni pinjaman Syariah dan pinjaman konvensional. 

Pinjaman Syariah merupakan proses pinjaman dana yang bebas riba sesuai dengan Syariat Islam. Hal tersebutlah yang sangat membedakan antara pinjaman Syariah dan Pinjaman online konvensional. Ada beberapa lembaga penyedia pinjaman online di Indonesia seperti Amartha, Danain, Modalku, Investree, dan lainnya. 

5 Perbedaan Pinjaman Syariah dan Online Konvensional 

Di bawah ini ada beberapa perbedaan dari pinjaman online Syariah dan Konvensional yang harus Anda ketahui sebelum mengajukan pinjaman. 

  1. Bunga pinjaman 

Biasanya setiap bunga pinjaman terdapat sistem perjanjian antara nasabah dan lembaga keuangan. Perjanjian ini biasanya disebut dengan “Akad” dan membutuhkan tanda tangan tertentu. Pastinya akan yang akan dilaksanakan oleh kedua belah pihak ini haruslah halal. Mulai dari jual beli, bagi hasil sewa menyewa, dan tidak boleh ada riba di dalamnya. 

Riba merupakan bunga. Nah, itulah hal yang membedakan perjanjian pinjaman Syariah dan online konvensional. Di dalam perjanjian online konvensional, masing-masing pinjaman yang memakai agunan atau juga tidak maka akan dikenakan bunga. Lalu, bunga dari pinjaman tersebut wajib dibayarkan setiap bulannya dengan jumlah cicilan dana pinjaman. 

 

Sering terjadi bunga pinjaman tersebut memberatkan pihak yang dipinjamkan, sebab peminjam harus membayar melebihi nominal yang mereka pinjam. Sedangkan untuk pinjaman online Syariah, tidak memiliki bunga yang harus dibayar oleh peminjam. Sehingga, pihak peminjam tidak lagi dibebankan dengan bunga pinjaman yang harus mereka bayar dengan jumlah hutang yang dimiliki. 

Mengapa demikian? Sebab bunga pada sistem Syariah hukumnya haram. Hal tersebut disebabkan bunga akan menyusahkan dan membebani peminjam. Di sistem Syariah ini memakai akad ijarah wa iqtina/ sewa, akad murabahah/ jual beli dengan perubahan kepemilikan dan sistem bagi hasil keuntungan (musyarakah mutanaqishah/ capital sharing).

 

Bagi hasil dari keuntungan ini didapatkan dari pihak yang telah melakukan pinjaman ke pihak pemberi pinjaman, dengan adanya kesepakatan di awal mengenai jumlah dana yang nantinya dibagi oleh kedua pihak. Untuk hal tersebut, keputusannya dibuat oleh kedua belah pihak yang berhubungan dan tidak ada paksaan. Selain itu, keuntungan yang didapatkan dari pinjaman online Syariah ini sekitar 2,3% dari keuntungan akan dialokasikan untuk zakat. 

Jadi, sekarang mengajukan pinjaman online Syariah, Anda juga dapat sekaligus menabung pahala. 

  1. Struktur Organisasi 

Pada pihak pinjaman online Syariah, mereka akan diawasi langsung oleh Dewan Pengawas Syariah (DPS). Dengan demikian, tidak akan terjadi penyelewengan dana. Selain itu, sistem operasional dan setiap produknya juga diawasi oleh DPS supaya sesuai dengan prinsip Syariah. 

Namun, DPS ini tidak ada di pinjaman online konvensional. Pinjaman online konvensional memakai Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk mengawasi keuangan. 

  1. Jenis Usaha yang Dibiayai 

Untuk pinjaman Syariah mempunyai aturan jika pinjaman hanya akan diberikan untuk usaha yang tidak melanggar norma agama dan hukum serta halal. Tentu saja hal tersebut berbeda dengan pinjaman online konvensional. Pinjaman akan diberikan kepada peminjam untuk kepentingan apapun selama seluruh persyaratan yang telah ditentukan sudah lengkap.

  1. Ketersediaan Pinjaman 

Memang pada dasarnya pinjaman konvensional ini tidak memiliki perbedaan yang jauh dalam hal dokumen. Tetapi, ada sedikit perbedaan yang terletak disini yaitu jika pinjaman Syariah memberikan produk yang dapat dipakai untuk kepentingan tertentu saja yang tidak terdapat di pinjaman konvensional.

Misalnya pembiayaan umroh dan haji. Kedua belah pihak akan mengutamakan keuntungan namun hal ini hanya berlaku untuk kebahagian dan kemakmuran dunia serta akhirat. Sehingga, bisa tercipta rasa kekeluargaan yang sangat erat. Lain halnya dengan pihak pinjaman konvensional yang membuat kerja sama dengan hanya sistem debitur dan kreditur saja. 

  1. Resiko 

Di dalam pinjaman Syariah, pihak dari pemberi pinjaman juga akan ikut menanggung sebagian resiko dari pinjaman tersebut. Jika pada pinjaman online konvensional, peminjam akan menanggung seluruh resikonya sendiri bila tidak dapat mengembalikan pinjaman. 

 

Nah, demikianlah perbedaan dari pinjaman online konvensional dan pinjaman online Syariah. Semoga dengan penjelasan di atas bisa membantu Anda untuk menentukan lembaga pinjaman yang akan Anda gunakan. Jangan lupa jika Anda ingin melakukan pengajuan pinjaman online, Anda harus berhati-hati dan teliti untuk memilih lembaga keuangan. Sebab jika tidak, Anda bisa mengalami kerugian. Semoga membantu!